Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

Ketum SSI Soroti Konten Kreator Berbahasa Kasar dan Aksi Tak Beretika, Dinilai Rusak Nilai Budaya

info sembilan news
7 Feb 2026, 12:49 WIB Last Updated 2026-02-07T05:49:37Z



Ketua Umum Sawargi Siliwangi Indonesia (SSI), Dadang Rakhmat Hidayat, saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto : Warpol/InfoSembilannews)

CIANJUR - Maraknya konten media sosial yang menampilkan bahasa kasar dan perilaku tidak beretika mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Ketua Umum Sawargi Siliwangi Indonesia (SSI), Dadang Rakhmat Hidayat.

Ia menilai, fenomena oknum konten kreator yang menggunakan kata-kata tidak pantas serta menampilkan aksi yang melanggar norma budaya kian meresahkan masyarakat. Bahkan, sejumlah tokoh agama dan budaya turut menyampaikan kecaman atas konten-konten yang dinilai tidak mendidik tersebut.

Sorotan tajam, kata Dadang, salah satunya tertuju pada oknum kreator yang dikenal dengan sebutan Mak Daster (atau Mama Daster) bersama rekannya, yang viral karena membuat konten dengan menginjak kuburan serta menendang batu nisan demi menarik perhatian publik.

“Belakangan ini banyak oknum konten kreator, khususnya dari Jawa Barat, yang menggunakan bahasa tidak pantas, berkata kasar, bahkan melakukan tindakan yang jelas melanggar tatanan budaya,” ujar Dadang kepada awak media, Sabtu (6/2/2026) di Sekretariat SSI.

Menurutnya, media sosial saat ini bukan lagi ruang privat, melainkan sudah menjadi konsumsi publik lintas usia. Karena itu, setiap konten yang disajikan akan berdampak langsung pada pola pikir dan perilaku masyarakat, terutama generasi muda.

“Ketika bahasa kasar dan perilaku tidak baik dipertontonkan, tentu ini tidak mendidik dan bisa berdampak pada nilai-nilai budaya serta kehidupan sosial,” tuturnya.

Dadang juga mengingatkan, jika konten toxic terus diproduksi, dikhawatirkan generasi muda akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Lebih lanjut, ia mendorong para kreator untuk menghadirkan konten yang membangun, edukatif, serta mengedepankan etika sesuai norma budaya daerah maupun nasional.

“Kreativitas itu penting, tapi harus dibarengi adab dan etika. Buatlah konten yang menghibur tanpa mencederai nilai budaya bangsa,” tegasnya.

Ia menegaskan, kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga warisan budaya Sunda yang dikenal dengan sopan santun dan keramahtamahan.

Dadang pun mengajak masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton pasif terhadap konten negatif, tetapi turut memberikan masukan sebagai bentuk kontrol sosial.

“Mari kita bersama menjaga identitas masyarakat Jawa Barat yang santun di tengah derasnya arus digitalisasi,” pungkasnya. (Red01)

Iklan