Oneng (60), tampak Duduk diruang tengah dengan Kondisi Rumah yang kurang layak huni (Foto : Wartapolitan.com/Istimewa)
CIANJUR - Kondisi rumah Ibu Oneng, warga Kampung Cigorowong, RT 01/RW 07, Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, mengundang keprihatinan. Di tengah keterbatasan ekonomi, perempuan yang hidup sebatang kara tersebut harus bertahan di rumah yang kondisinya nyaris roboh dan jauh dari kata layak huni.
Berdasarkan foto kondisi rumah yang diterima, terlihat bangunan sederhana tersebut mengalami kerusakan cukup parah. Dinding anyaman bambu tampak lapuk dan berlubang, lantai papan terlihat rusak, sementara bagian rangka atap dan penyangga bangunan menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Situasi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan tempat tinggal, melainkan menyangkut keselamatan jiwa penghuninya. Terlebih ketika hujan deras disertai angin kencang melanda, ancaman bangunan ambruk menjadi kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan.
Sebagai seorang janda yang hidup seorang diri dengan penghasilan terbatas, Ibu Oneng dinilai tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumahnya secara mandiri.
Harapan untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman kini bergantung pada kepedulian pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kondisi rumah Ibu Oneng telah diketahui oleh warga sekitar, Ketua RT setempat, hingga pihak pemerintah desa.
Namun, warga mengaku kecewa karena hingga saat ini belum melihat adanya realisasi bantuan untuk memperbaiki rumah tersebut.
“Pihak desa sudah mengetahui kondisinya. Mereka datang mengambil foto-foto saja, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” ungkap salah seorang warga, yang enggan disebut namanya.
Lalu, keluhan tersebut menjadi gambaran harapan masyarakat agar penanganan terhadap warga yang membutuhkan tidak berhenti pada pendataan dan dokumentasi semata.
Warga berharap Pemerintah Desa Cibokor bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur segera melakukan langkah konkret, baik melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), bantuan sosial, maupun skema penanganan lainnya yang sesuai dengan ketentuan.
Terpisah, Sekretaris Rakyat Miskin Kota (SRMK) Kabupaten Cianjur, Junaedi Shalat, turut menjadi perhatian dalam persoalan tersebut. Kondisi rumah yang mengancam keselamatan penghuninya.
"Artinya, dinilai perlu mendapatkan respons cepat dari pemerintah," ujar dia.
Menurutnya, penanganan warga miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni harus mengedepankan tindakan nyata, bukan hanya sebatas pendataan atau dokumentasi. Ketika ada warga yang tinggal di rumah dengan kondisi nyaris ambruk, pemerintah harus hadir dengan langkah konkret.
"Jangan sampai masyarakat yang hidup dalam keterbatasan hanya menjadi objek pendataan dan dokumentasi, sementara kebutuhan mendasar mereka untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman belum terpenuhi,” ucap Junaedi Shalat, Sabtu (31/10/2026) pagi.
Ia juga diharapkan mendorong pemerintah desa dan pemerintah daerah agar melakukan verifikasi kondisi rumah Ibu Oneng secara langsung, sekaligus memastikan adanya tindak lanjut melalui program bantuan yang tersedia.
Persoalan rumah tidak layak huni bukan hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan terhadap masyarakat rentan yang membutuhkan perhatian serius.
Kondisi rumah Ibu Oneng menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Warga berharap pemerintah tidak menunggu terjadinya musibah sebelum mengambil tindakan. Rumah yang sudah menunjukkan kerusakan berat semestinya menjadi perhatian prioritas, terutama ketika penghuninya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk melakukan perbaikan.
Kini, masyarakat Kampung Cigorowong menantikan jawaban atas harapan sederhana Ibu Oneng: memiliki tempat tinggal yang aman dan layak untuk dihuni.
"Sebab, bagi warga yang hidup dalam keterbatasan, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan atau foto dokumentasi. Bantuan adalah kepastian," tandasnya. (Red01)
