Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

Kala 'Lonceng Akhir Zaman' Rusia Berdentang

info sembilan news
22 Jan 2026, 13:37 WIB Last Updated 2026-01-22T06:37:35Z



Oleh: Yakub F. Ismail

Kembalinya aktivitas 'Radio Kiamat' Rusia belum lama ini membuat dunia sedang dalam kepanikan hebat. Lonceng akhir zaman yang dikenal dunia sebagai The Buzzer atau UVB-76 itu memberikan peringatan keras bagi dunia.

Sebuah petanda bahwa dunia sedang menuju akhir zaman. Alarm agung itu berdentang keras di tengah konflik geopolitik yang kian memanas.

Suara dengung misterius yang dahulu diidentikkan dengan era Perang Dingin itu kini kembali mengudara, seolah memberikan sinyal penting penanda dunia sedang berdiri di ambang jurang sejarah yang kritis.

Banyak pihak yang berusaha mengaitkan fenomena misterius itu bukan sekadar gangguan teknis, melainkan simbol dari peringatan serius kesiapsiagaan militer Rusia dalam menghadapi ancaman terburuk, yakni eskalasi perang global berskala besar.

Sekali lagi, sinyal radio kembali memberikan pesan khusus bahwa ketegangan antara blok besar dunia, ancaman perang nuklir, serta krisis multidimensi sedang menuju kenyataan.

Bayang-bayang Perang Dunia III (The Third World War) yang dahulu hanya dianggap rumor, kini mulai terasa semakin nyata. 

Bagi Indonesia, tentu situasi ini bukan hanya sebatas isu yang jauh di luar batas geografis. Sebab, jika saja kemungkinan terburuk itu terjadi, dampak ekonomi, keamanan regional, hingga stabilitas sosial bakal mengalami pukulan yang amat dahsyat. 

Oleh karena itu, langkah kewaspadaan strategis, diplomasi aktif, dan upaya memperkuat ketahanan nasional menjadi langkah yang tak bisa diulur lagi.

Makna di Balik Radio Kiamat Rusia

Radio Kiamat Rusia, memiliki makna khusus dalam konteks pertahanan dan keamanan Rusia. Teknologi yang secara teknis dikenal sebagai UVB-76 itu merupakan stasiun radio gelombang pendek yang telah aktif semenjak periode Perang Dingin (Cold War). 

Cara kerja siaran dari radio tersebut terkenal monoton, yakni menyerupai dengungan yang berulang. Namun begitu, sesekali diselingi suara atau kode misterius. 

Para analis militer Barat umumnya mengaitkan alat tersebut sebagai bagian dari sistem komunikasi militer rahasia dan strategis milik Rusia. Teristimewa ketika kondisi sedang dalam protokol darurat atau kesiapan nuklir.

Hal yang perlu diketahui dari Radio Kiamat ini yakni fungsi utamanya sebagai saluran komunikasi cadangan untuk memastikan instruksi militer Rusia tetap siaga dan dapat disampaikan jika sistem utama lumpuh imbas dari adanya serangan besar, termasuk dalam hal ini serangan nuklir. 

Dalam doktrin militer Rusia, Radio Kiamat ini dianggap sebagai bagian dari fail-safe mechanism, yaitu respons darurat yang akan tetap berjalan bahkan ketika situasi berada di luar kendali atau terjadi kehancuran infrastruktur komunikasi.

Dengan demikian, kembali aktifnya aktivitas Radio Kiamat tersebut tentu memberikan pesan khusus bahwa keadaan tidak sedang baik-baik.

Hal inilah yang belakangan ini memicu spekulasi masyarakat global terkait alaram kiamat. Pertanyaannya, mengapa ia kembali aktif? Jawabannya sudah pasti tidak lepas dari konteks ketegangan geopolitik global yang berlangsung hari ini.

Mulai dari konflik Rusia–Ukraina yang masih terus berlanjut, ketegangan dengan NATO, AS di bawah nakhoda Donald Trump yang semakin sukar diprediksi pergerakannya di kawasan, serta meningkatnya latihan militer berskala besar. 

Dengan demikian, aktivitas Radio Kiamat ini lebih tepat dipahami sebagai sinyal peringatan, bukan vonis kehancuran. Ia mengingatkan dunia bahwa negara-negara besar kini tengah berada di ambang perang akbar.

*Potensi Pecah Perang Dunia III: Di Mana Posisi Indonesia?*

Banyak yang mulai berspekulasi bahwa sinyal yang dikirim dari Radio Kiamat Rusia itu penanda bakal pecah Perang Dunia III. 

Spekulasi tersebut bukan tanpa dasar. Radio tersebut bukan penyebab perang, melainkan indikator meningkatnya ketegangan strategis global. Dalam sejarah internasional, kita belajar banyak tentang perang besar yang sering diawali oleh akumulasi sinyal kecil.

Sinyal-sinyal minor itu berupa perlombaan senjata, pengerasan blok politik, dan meningkatnya kesiapsiagaan militer. Radio Kiamat menjadi salah satu “indikasi kuat” dari rangkaian itu.

Pertanyaannya, apabila perang yang dikhawatirkan saban hari itu ternyata benar-benar terjadi, maka seperti dampaknya bagi dunia? Lantas, di manakah posisi Indonesia dalam menyikapi situasi darurat tersebut? 

Indonesia, meskipun kini menganut politik luar negeri bebas aktif, bukan berarti sepenuhnya kebal dari perang global. 

Gangguan rantai pasok global, lonjakan harga energi dan pangan, instabilitas kawasan Indo-Pasifik, hingga tekanan geopolitik yang datang akibat perang dunia tentu bukan sesuatu yang bisa dihindari. Bisa dikatakan dampak tersebut adalah bagian dari konsekuensi logis yang hampir pasti terjadi.

Di sinilah pentingnya mempertegas posisi strategis Indonesia di tengah ancaman perang semesta ini. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara dan juga sebagai anggota aktif berbagai forum internasional, Indonesia seyogyanya memiliki peran cukup strategis dalam menjembatani perbagai ketegangan dan tarikan kepentingan yang ada.

Indonesia diharapkan dapat tampil sebagai penyejuk ketegangan. Prinsip bebas aktif tidak mesti dimaknai sebagai sikap pasif, melainkan mandat untuk proaktif dalam meredam gejolak konflik dan mendorong ke arah perdamaian dunia.

Pada akhirnya, mungkin tidak akan banyak mengubah jalannya takdir sejarah, namun dengan peran kecil yang dimainkan secara intens dan sungguh-sungguh, barangkali Indonesia mampu mencatatkan namanya sebagai salah satu negara yang ikut terlibat dalam menunda jalan menuju kiamat tersebut.

Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR

Iklan