Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

Irigasi Cisalak Nilai 429 Juta Jebol, Warga Pertanyakan Kualitas

info sembilan news
8 Jan 2026, 12:31 WIB Last Updated 2026-01-08T05:31:19Z



Jebol 4 Hari Usai Difungsikan, pekerja saat memperbaiki irigasi yang jebol (Foto : Dedi/Infosembilannews.com)

CIANJUR - Proyek pembangunan irigasi saluran induk Daerah Irigasi (D.I) Cisalak Batusahulu senilai Rp429.698.151,00 yang berlokasi di Kampung Babakan Ater, Desa Cikancana, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, menuai sorotan tajam. 

Pasalnya, saluran irigasi tersebut dilaporkan retak dan bocor hanya empat hari setelah difungsikan, sehingga memicu kekhawatiran petani dan pemerintah desa terhadap kualitas fisik bangunan.

Warga menilai proyek yang diharapkan mengaliri sekitar 1.000 hektare lahan pertanian itu dikerjakan secara asal-asalan. HB, tokoh masyarakat sekaligus petani setempat, mengaku kecewa melihat kondisi bangunan yang dinilainya tidak sebanding dengan nilai anggaran.

Ia menyebut, plesteran dan adukan semen tampak lemah, sehingga saluran tidak mampu menahan debit air dan kembali jebol dalam waktu singkat. Akibatnya, aliran air ke sawah kembali terhenti dan mengganggu aktivitas pertanian warga.

Keluhan serupa disampaikan Kepala Desa Cikancana, Nanang, yang mengungkapkan bahwa sejak awal pelaksanaan proyek, pihaknya kerap menerima aduan masyarakat. Mulai dari lambannya pekerjaan, penutupan aliran air yang berkepanjangan, keterlambatan pembayaran upah pekerja lokal, hingga kerugian petani karena gagal mengolah sawah.

“Baru empat hari dialiri air, bangunan sudah jebol lagi. Kalau kualitasnya baik, tidak mungkin cepat rusak. Ini anggaran negara, nilainya besar, tapi hasilnya mengecewakan,” tegas Nanang. 

Ia berharap pemerintah pusat dan dinas terkait turun tangan tegas mengevaluasi pelaksanaan proyek tersebut.

Sorotan juga datang dari aktivis Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), AD, yang menilai kerusakan dini proyek irigasi berpotensi menimbulkan kerugian negara dan petani dalam skala besar. 

Menurutnya, terhentinya aliran air selama pembangunan hingga perbaikan ulang berdampak langsung pada produksi padi.

“Jika rata-rata produksi 6–7 ton per hektare per musim dikalikan 1.000 hektare, potensi kerugian petani sangat besar. Proyek irigasi tidak boleh dikerjakan main-main,” ujarnya.

Sementara itu, pihak UPTD Pelayanan Infrastruktur Irigasi (PII) Cikalong menyatakan telah melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Kabupaten dan merekomendasikan agar bangunan dibongkar serta diperbaiki. Meski proyek telah dilakukan PHO (Provisional Hand Over), pihak UPTD menyebut bangunan masih dalam masa pemeliharaan.

UPTD juga menegaskan bahwa dokumen perencanaan dan pengawasan teknis berada di bawah kewenangan dinas kabupaten dan konsultan pengawas, sementara UPTD hanya melakukan pemantauan lapangan.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (Kabid SDA) Kabupaten Cianjur Pemi memberikan klarifikasi terkait jebolnya proyek pembangunan irigasi saluran induk D.I Cisalak Batusahulu yang dilaporkan rusak hanya beberapa hari setelah difungsikan, tepatnya pada 4 Januari 2026.

Kabid SDA menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan lebih awal terkait kondisi bangunan irigasi tersebut. Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, ditemukan adanya kebocoran pada bagian lantai saluran sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan lebih parah jika tidak segera ditangani.

“Kemarin kami sudah menerima laporan, makanya memang harus segera diperbaiki. Itu baru selesai dikerjakan dan saat ini masih dalam masa pemeliharaan,” ujar Kabid SDA saat dikonfirmasi, Kamis siang (8/1/2026).

Ia menegaskan, proyek tersebut masih menjadi tanggung jawab pihak kontraktor. Dinas terkait pun telah memanggil kontraktor pelaksana dan memerintahkan agar segera dilakukan perbaikan ulang pada bagian yang mengalami kerusakan.

“Kontraktornya sudah kami panggil dan sudah saya instruksikan untuk segera memperbaiki. Harus diperbaiki karena kami khawatir jebol, apalagi masih terlihat ada aktivitas pekerjaan di lokasi,” jelasnya.

Menurututnya, kebocoran yang terjadi di bagian lantai saluran menjadi perhatian serius karena dapat mengganggu fungsi irigasi dan membahayakan struktur bangunan jika dibiarkan.

“Itu ada bocoran di lantai, jadi memang harus diperbaiki ulang supaya tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Cianjur memastikan akan terus melakukan pengawasan selama masa pemeliharaan proyek berlangsung, serta menegaskan komitmen agar kualitas pembangunan infrastruktur irigasi benar-benar sesuai spesifikasi dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.

Hingga berita ini diturunkan, warga dan petani Desa Cikancana masih menunggu langkah tegas pemerintah daerah guna memastikan kualitas pembangunan serta keberlanjutan pasokan air untuk sektor pertanian. (Dedi rjy)

Iklan